Pages

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Desember 2010

Puisi Untuk Bumi


Bagaimana dengan matahari terbit ???
Bagaimana hujan ???
Apa tentang semua hal yg kita gunakan dr diri’a..??
Bahwa kau mengatakan kami untuk mendapatkan …
Bagaimana dengan bidang membunuh,
Apakah ada waktu ???
Apa tentang semua hal
Yang kamu katakan itu milikmu dan milikku …
Apakah Anda pernah berhenti untuk memperhatikan Bumi Kita ini..??
Semua yg dia punya tertumpah sebelum Kau Mengetahui’a..
Apakah Anda pernah berhenti untuk memperhatikan
Bumi yang menangis ini menangis seperti pantai yg kekurangan pasir ???
Apa yang kita lakukan kepada dunia…???
Lihat apa yang kami lakukan pada’a…??
Bagaimana dengan semua perdamaian,
Bagaimana dengan bidang berbunga…???
Apakah anda ada waktu?
Bagaimana dengan semua mimpi, mimpi menciptakan perdamaian dan menciptakan bumi ini tuk tetap hidup tuk anak cucu kita,???
Yang kamu katakan itu milikmu dan milikku?
Apakah Anda pernah berhenti untuk pemberitahuan,
Jagalah Buni Kita…???
Apakah Anda pernah berhenti untuk pemberitahuan,
Bumi yang menangis ini menangis diantara tata surya…???
Aku sering bermimpi untuk melirik luar bintang,
Sekarang aku tidak tahu di mana kita ,Meskipun saya tahu kita sudah melayang jauh …
Hei
bagaimana kemarin …
Bagaimana lautan …
dan bagaimana besok…???
Bagaimana dengan kita …???
Aku bahkan tidak bisa bernapas ..
Bagaimana dengan empati…???
Aku butuh kamu , Kita Butuh kamu…dan semua membutuhkan kamu…
Bagaimana alam layak untuk berteman dgn kita, sedangkan kita merampas semua kehidupan yg ada di alam…
Itu rahim planet kita???
Bagaimana dengan hewan ???
Kami telah berpaling kerajaan-kerajaan untuk debu ???
Bagaimana dengan gajah ???
Apakah kita kehilangan kepercayaan
Bagaimana dengan menangis paus di dalam laut sana ???
Bumi tolong dengar Semua Permohonan Ma’af kami meskipun permohonan kami hanya sementara..
Bagaimana dengan orang-orang biasa ???
Bagaimana dengan anak-anak yang sekarat ???
Tidak bisa mendengar Dia menangis, Tapi Kita bisa rasakan, begitu sedih’a dia..
seorang Ibu mengatakan padaku mengapa
Bagaimana dengan bayi laki-laki saya…??
Bagaimana dengan hari-hari’a…???
Bagaimana dengan semua kegembiraan mereka, kita, dan dia (Bumi)
Apa yang kita lakukan sehingga membuat bumi nee menangis..??
Apakah kita peduli…???
Pikirkan…!!!

Bumi


Oleh : Aam Amelia
Terik mentari merentang masa
Memapar bumi yang tersiksa ulah manusia
Diam tanpa daya
Terjamah tangan-tangan nakal tak bernorma
Melubangi lapisan ozon
Membabat hutan-hutan lebat
Hingga suhu bumi terus meningkat
Es di kutub mencair
Permukaan laut pun naik
Gumpalan asap mengepul dimana-mana
Tak ada lagi udara segar yang bebas polutan
Limbah kimia berbahaya cemari air yang mengaliri ribuan hektar sawah
Merusak harmonisasi ekosistem air
Wahai pemilik tangan-tangan nakal
Tidakkah kau mendengar jeritan alam
Tidakkah kau melihat bencana tiada henti menimpa
Jutaan manusia kehilangan tempat tinggal
Jutaan satwa kehilangan habitat
Dimana lagi kita akan berpijak
Mencari kehidupan baru di planet lain?
Seperti negara adidaya yang sedang mengeksplorasi mars dan bulan
Atau tetap tinggal di tempat yang tiada henti kau rusak
Dimanakah hati nuranimu kau simpan?
Tidak ingatkah bahwa kau adalah
Khalifah di muka bumi yang kau tempati?
Bukan mesin perusak yang dipenuhi ambisi
Bukan pula robot penghancur yang tidak berhati
Wahai pemilik tangan-tangan nakal
Tidak pernahkah kau berfikir
Mengembalikan semua yang pernah kau ambil
Hutan lebat yang menghijau
Air sungai yang tidak tercemar
dan udara yang bebas polutan
Karena, di bumi ini jua kau tinggal

Rabu, 01 Desember 2010

Harapan Bagai Awan yang Hujan


Dalam malam terawang gadis kembang
Merekah dalam senyuman dan harapan
Tentang cinta tersimpan dalam awan
Lalu berserakan menjadi hujan

Seisi malam terbayang parasmu
Berselimut rindu yang menggantung di bulan
         terlalu lama kutahan
menikam kejam
Rasa yang bertaburan bagai bintang melayang

Angin berdesau menarik ranting
Lembayung tersungging di pelepah ara
Dalam sepi yang mengigit jari
hati tertimbun impian
Yang tak mungkin jadi kenyataan  
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Desember 2010

Puisi Untuk Bumi

Diposting oleh Muslihah di 19.41 0 komentar

Bagaimana dengan matahari terbit ???
Bagaimana hujan ???
Apa tentang semua hal yg kita gunakan dr diri’a..??
Bahwa kau mengatakan kami untuk mendapatkan …
Bagaimana dengan bidang membunuh,
Apakah ada waktu ???
Apa tentang semua hal
Yang kamu katakan itu milikmu dan milikku …
Apakah Anda pernah berhenti untuk memperhatikan Bumi Kita ini..??
Semua yg dia punya tertumpah sebelum Kau Mengetahui’a..
Apakah Anda pernah berhenti untuk memperhatikan
Bumi yang menangis ini menangis seperti pantai yg kekurangan pasir ???
Apa yang kita lakukan kepada dunia…???
Lihat apa yang kami lakukan pada’a…??
Bagaimana dengan semua perdamaian,
Bagaimana dengan bidang berbunga…???
Apakah anda ada waktu?
Bagaimana dengan semua mimpi, mimpi menciptakan perdamaian dan menciptakan bumi ini tuk tetap hidup tuk anak cucu kita,???
Yang kamu katakan itu milikmu dan milikku?
Apakah Anda pernah berhenti untuk pemberitahuan,
Jagalah Buni Kita…???
Apakah Anda pernah berhenti untuk pemberitahuan,
Bumi yang menangis ini menangis diantara tata surya…???
Aku sering bermimpi untuk melirik luar bintang,
Sekarang aku tidak tahu di mana kita ,Meskipun saya tahu kita sudah melayang jauh …
Hei
bagaimana kemarin …
Bagaimana lautan …
dan bagaimana besok…???
Bagaimana dengan kita …???
Aku bahkan tidak bisa bernapas ..
Bagaimana dengan empati…???
Aku butuh kamu , Kita Butuh kamu…dan semua membutuhkan kamu…
Bagaimana alam layak untuk berteman dgn kita, sedangkan kita merampas semua kehidupan yg ada di alam…
Itu rahim planet kita???
Bagaimana dengan hewan ???
Kami telah berpaling kerajaan-kerajaan untuk debu ???
Bagaimana dengan gajah ???
Apakah kita kehilangan kepercayaan
Bagaimana dengan menangis paus di dalam laut sana ???
Bumi tolong dengar Semua Permohonan Ma’af kami meskipun permohonan kami hanya sementara..
Bagaimana dengan orang-orang biasa ???
Bagaimana dengan anak-anak yang sekarat ???
Tidak bisa mendengar Dia menangis, Tapi Kita bisa rasakan, begitu sedih’a dia..
seorang Ibu mengatakan padaku mengapa
Bagaimana dengan bayi laki-laki saya…??
Bagaimana dengan hari-hari’a…???
Bagaimana dengan semua kegembiraan mereka, kita, dan dia (Bumi)
Apa yang kita lakukan sehingga membuat bumi nee menangis..??
Apakah kita peduli…???
Pikirkan…!!!

Bumi

Diposting oleh Muslihah di 19.31 0 komentar

Oleh : Aam Amelia
Terik mentari merentang masa
Memapar bumi yang tersiksa ulah manusia
Diam tanpa daya
Terjamah tangan-tangan nakal tak bernorma
Melubangi lapisan ozon
Membabat hutan-hutan lebat
Hingga suhu bumi terus meningkat
Es di kutub mencair
Permukaan laut pun naik
Gumpalan asap mengepul dimana-mana
Tak ada lagi udara segar yang bebas polutan
Limbah kimia berbahaya cemari air yang mengaliri ribuan hektar sawah
Merusak harmonisasi ekosistem air
Wahai pemilik tangan-tangan nakal
Tidakkah kau mendengar jeritan alam
Tidakkah kau melihat bencana tiada henti menimpa
Jutaan manusia kehilangan tempat tinggal
Jutaan satwa kehilangan habitat
Dimana lagi kita akan berpijak
Mencari kehidupan baru di planet lain?
Seperti negara adidaya yang sedang mengeksplorasi mars dan bulan
Atau tetap tinggal di tempat yang tiada henti kau rusak
Dimanakah hati nuranimu kau simpan?
Tidak ingatkah bahwa kau adalah
Khalifah di muka bumi yang kau tempati?
Bukan mesin perusak yang dipenuhi ambisi
Bukan pula robot penghancur yang tidak berhati
Wahai pemilik tangan-tangan nakal
Tidak pernahkah kau berfikir
Mengembalikan semua yang pernah kau ambil
Hutan lebat yang menghijau
Air sungai yang tidak tercemar
dan udara yang bebas polutan
Karena, di bumi ini jua kau tinggal

Rabu, 01 Desember 2010

Harapan Bagai Awan yang Hujan

Diposting oleh Muslihah di 00.49 0 komentar

Dalam malam terawang gadis kembang
Merekah dalam senyuman dan harapan
Tentang cinta tersimpan dalam awan
Lalu berserakan menjadi hujan

Seisi malam terbayang parasmu
Berselimut rindu yang menggantung di bulan
         terlalu lama kutahan
menikam kejam
Rasa yang bertaburan bagai bintang melayang

Angin berdesau menarik ranting
Lembayung tersungging di pelepah ara
Dalam sepi yang mengigit jari
hati tertimbun impian
Yang tak mungkin jadi kenyataan